Wednesday, February 26, 2014



Diantara Keduanya
Diantara keduanya. Berlindung dibawah payung atau membiarkan diriku basah di guyur hujan. Pergi dari tempat ini atau tetap menantinya. Berhenti menantinya atau tetap bertahan.
***
Seperti biasa, sore hari di kota ini selalu hujan. Dan seperti biasa pula aku masih menunggunya datang dari arah yang sama ketika ia pergi meninggalkanku.  Kadang aku menyerah dan ingin segera beranjak dari tempat ini. Apakah ia lupa padaku dan kenangan kita?  Atau ia menemukan persinggahan lain? Namun, hati kecilku yang lain mengatakan untuk tetap bertahan. Seolah berkata bahwa  ia sedang mencari jalan kembali ke tempat ini, padaku. Entahlah..
Magrib tiba, aku pulang. Tapi tenang saja, aku akan kembali esok pukul empat di tempat yang sama, berdandan dan memakai pakaian terbaikku untuk menyambut kedatangannya.  Tapi sampai kapan? Entahlah. Mungkin sampai aku lelah, atau mungkin sampai ia tiba. Tapi kapan? Entahlah..
Aku selalu bersemangat setiap kali pulang kerja karena aku akan kembali ke tempat yang sama untuk menantinya. Aku berdandan di toilet wanita di kantorku, mengganti pakaian kantorku dengan pakaian terbaikku, seolah aku akan bertemu dengannya pada setiap harinya. Meskipun disetiap harinya pun aku selalu pulang sendiri, basah dan menangis. Menyeret payungku sepanjang jalan pulang dan membiarkan hujan membasahiku. Selalu begitu sejak dua tahun lalu.
Hari ini, Rabu 7 Januari 2002. aku rasa aku lelah untuk menunggunya disana. Mungkin aku bosan dengan tempatnya? Atau aku bosan melakukan aktivitas yang sia-sia ini?. Tapi aku harus menunggunya, entah mengapa. Mungkin penantian ini akan berakhir indah? Entahlah… semoga saja….
Dan akhirnya aku tetap akan pergi untuk menunggunya, namun kali ini tidak bersemangat seperti biasanya.  Berdandan sangat sederhana, menggunakan pakaian kantorku namun dengan payung yang tetap sama. Mungkin karena aku tahu kali ini pun ia akan tetap tidak datang. Aku melewati jalan yang sama dengan hati yang.. kurasa letih. Letih karena penantian yang tak kunjung usai ini.
Tepat pukul empat aku tiba ditempat ini. Berdiri dengan cemas dan sedikit senang. Entahlah, keduanya sangat tidak pasti. Seolah ia akan datang tapi.. lagi-lagi.. Entahlah.. Aku selalu melihat ke arah kanan. Arah dimana ia meninggalkanku dulu, melambaykan tangannya dan berjanji akan kembali. Aku selalu berdegup kencang ketika ada bayang yang muncul dari arah sana, sedikit menjamkan mata, memastikan itu adalah bayangannya. Namun selalu ku dapati itu bukan dia. Bukan dia yang kunanti selama ini. ;’)
Kulihat lagi arloji yang melingkari lenganku, entah sudah yang keberapa kalinya aku melihatnya. Pukul Enam. Ternyata. Sudah dua jam aku menunggunya, jalanan semakin sepi, hujan semakin deras. Aku mulai putus asa, sangat putus asa. Aku ingin berteriak. Aku ingin menangis sejadi-jadinya. Aku ingin pulang. Aku ingin pergi dari tempat ini. Tempat dimana aku tidak bisa mendapati dirinya datang dari arah yang sama ketika ia pergi . kemanakah ia kini? Lupakah ia padaku? Lupakah ia pada janjinya untuk kembali padaku? Tidakkah ia tahu aku selalu menantinya disini?
Kakiku letih untuk berdiri, tanganku letih memengang payung ini, hatiku lebih letih menatinya. Dan air mataku, aku sangat letih menangis setiap sore, sepanjang jalan. Aku  berhenti..

Siti Sischa Lusiana
13 Januari, 2014

No comments:

Post a Comment