Diantara
Keduanya

Diantara
keduanya. Berlindung dibawah payung atau membiarkan diriku basah di guyur
hujan. Pergi dari tempat ini atau tetap menantinya. Berhenti menantinya atau
tetap bertahan.
***
Seperti
biasa, sore hari di kota ini selalu hujan. Dan seperti biasa pula aku masih
menunggunya datang dari arah yang sama ketika ia pergi meninggalkanku. Kadang aku menyerah dan ingin segera beranjak
dari tempat ini. Apakah ia lupa padaku dan kenangan kita? Atau ia menemukan persinggahan lain? Namun,
hati kecilku yang lain mengatakan untuk tetap bertahan. Seolah berkata
bahwa ia sedang mencari jalan kembali ke
tempat ini, padaku. Entahlah..
Magrib
tiba, aku pulang. Tapi tenang saja, aku akan kembali esok pukul empat di tempat
yang sama, berdandan dan memakai pakaian terbaikku untuk menyambut
kedatangannya. Tapi sampai kapan?
Entahlah. Mungkin sampai aku lelah, atau mungkin sampai ia tiba. Tapi kapan?
Entahlah..
Aku
selalu bersemangat setiap kali pulang kerja karena aku akan kembali ke tempat
yang sama untuk menantinya. Aku berdandan di toilet wanita di kantorku,
mengganti pakaian kantorku dengan pakaian terbaikku, seolah aku akan bertemu
dengannya pada setiap harinya. Meskipun disetiap harinya pun aku selalu pulang
sendiri, basah dan menangis. Menyeret payungku sepanjang jalan pulang dan
membiarkan hujan membasahiku. Selalu begitu sejak dua tahun lalu.
Hari
ini, Rabu 7 Januari 2002. aku rasa aku lelah untuk menunggunya disana. Mungkin
aku bosan dengan tempatnya? Atau aku bosan melakukan aktivitas yang sia-sia
ini?. Tapi aku harus menunggunya, entah mengapa. Mungkin penantian ini akan
berakhir indah? Entahlah… semoga saja….
Dan
akhirnya aku tetap akan pergi untuk menunggunya, namun kali ini tidak
bersemangat seperti biasanya. Berdandan sangat
sederhana, menggunakan pakaian kantorku namun dengan payung yang tetap sama.
Mungkin karena aku tahu kali ini pun ia akan tetap tidak datang. Aku melewati
jalan yang sama dengan hati yang.. kurasa letih. Letih karena penantian yang
tak kunjung usai ini.
Tepat
pukul empat aku tiba ditempat ini. Berdiri dengan cemas dan sedikit senang.
Entahlah, keduanya sangat tidak pasti. Seolah ia akan datang tapi.. lagi-lagi..
Entahlah.. Aku selalu melihat ke arah kanan. Arah dimana ia meninggalkanku
dulu, melambaykan tangannya dan berjanji akan kembali. Aku selalu berdegup
kencang ketika ada bayang yang muncul dari arah sana, sedikit menjamkan mata,
memastikan itu adalah bayangannya. Namun selalu ku dapati itu bukan dia. Bukan
dia yang kunanti selama ini. ;’)
Kulihat
lagi arloji yang melingkari lenganku, entah sudah yang keberapa kalinya aku
melihatnya. Pukul Enam. Ternyata. Sudah dua jam aku menunggunya, jalanan
semakin sepi, hujan semakin deras. Aku mulai putus asa, sangat putus asa. Aku
ingin berteriak. Aku ingin menangis sejadi-jadinya. Aku ingin pulang. Aku ingin
pergi dari tempat ini. Tempat dimana aku tidak bisa mendapati dirinya datang dari
arah yang sama ketika ia pergi . kemanakah ia kini? Lupakah ia padaku? Lupakah
ia pada janjinya untuk kembali padaku? Tidakkah ia tahu aku selalu menantinya
disini?
Kakiku
letih untuk berdiri, tanganku letih memengang payung ini, hatiku lebih letih
menatinya. Dan air mataku, aku sangat letih menangis setiap sore, sepanjang
jalan. Aku berhenti..
Siti
Sischa Lusiana
13
Januari, 2014
No comments:
Post a Comment