Wednesday, July 6, 2016

Dasar

Basis, kb. Dasar.
Pasti ada suatu momen, di masa awal, ketika kau bertanya-tanya apakah kau memang jatuh cinta kepada orangnya, atau kau jatuh cinta kepada perasaan cinta itu sendiri.
Jika momen tersebut tak berlalu juga, itu dia-tamatlah kau.

Dan kalau akhirnya berlalu, momen itu tak pernah pergi jauh. Ia menjulang di kejauhan, setiap kali kau menginginkannya lagi.

Kadang-kadang ia bahkan ada disana saat kau pikir kau mencari sesuatu yang lain, misalnya rute pelarian, atau wajah kekasihmu,
(david levithan, 2011 hlm.32)

Kira-kira bergitulah yang aku rasakan pada cinta kali ini, setiap kali aku menanyakan pada hati, ia masih kebingungan bagaimana menjawabnya. Apakah aku benar-benar mencintainya atau aku hanya mencintai perasaan cinta?

Aku tak pernah tahu bagaimana menyebutku sehubungan denganmu. Sedikit melebihi kekasih, tetapi kurang dari pasangan. Terlalu lama waktu yang kita habiskan dalam kemasing-masingan pada sebuah hubungan. Aku membiarkannya, kupikir itu adalah bentuk rasa cintaku untuk mengerti bagaimana caramu menjalani kehidupanmu dan caramu mencintaiku.

Aku menikmati masa dimana aku merindukanmu, namun juga merasa kesal karena mendapati kenyataan bahwa tak satu teks pun kau kirim padaku untuk sekedar menanyakan kabarku. Aku yang seharusnya memulai? Bukankah pernah kucoba? Ya pernah, lalu kau mengabaikannya. Mencoba lagi? Bukannya tak ingin, tapi kurasa harga diriku tidak boleh turun lebih dari yang kemarin.

Aku menikmati masa dimana aku merindukanmu, namun juga merasa sedih karena mendapati kenyataan bahwa sepertinya kau tak lagi peduli padaku. Sampai pada aku menyerah dan menenggelamkan diri pada aktivitas untuk melupakan soal aku ingin meluruhkan perasaan itu; rindu.

Lagi. Aku menahan perasaan untuk menghubungimu biarlah aku mengetahui bahwa “ah… kau masih hidup” lewat keaktifanmu di sosial media, atau temanmu yang juga temanku mengatakan “kemarin aku bertemu dengannya.” Kenyataan-kenyataan itu cukup bagiku.

Aku sampai pada masa dimana akhirnya orang-orang disekitarku mengasihaniku karena perasaanku, kadang mereka kesal kepadaku. Aku tak pernah mengerti mengapa mereka melakukannya, padahal aku tak pernah bermasalah dengan perasaanku. Perasaan itu, aku menikmatinya. Sungguh.

Aku rasa aku benar-benar bingung dengan perasaan ini. Entah apa yang merasukiku sampai akhirnya aku mengatakan keinginanku yang sebenarnya bukan benar-benar keinginanku. Aku menjadi bukan aku. Tadinya kukira setelah aku mengatakannya, kita tidak akan benar-benar bertemu lagi, atau berakhirlah kita. Karena bukan aku jika memaksakan apa yang aku inginkan pada orang lain, maka jika aku telah menerjemahkan perasaan kedalam sebuah pernyataan, itu sudah lebih dari cukup. Aku tidak butuh kau mengerti, aku hanya ingin kau mengatakan “oh, baiklah.” Aku mengira bahwa yang akan aku katakan adalah perpisahan, lalu kau menyetujuinya.

Sebenarnya ketika aku mengatakannya, aku telah bersiap untuk kehilanganmu, kita, dan perasaan-perasaan. Jika kau mengatakan kita tak usah lagi bertemu atau berbicara dan saling melupakan, aku bahkan akan dengan lapang hati mengatakan “ya, tak apa. I’m ready for it.

Tapi sepertinya aku malah lupa untuk mengatakan “mari kita saling melupakan dan berbahagia dengan cara kita masing-masing.” Hingga akhirnya waktu mengantarkan kita pada saat ini…

***

Dumbfounded, ks. Tercengang, ternganga.
Terlepas dari segenap rasa cemburu, semua keraguan, terkadang aku terkesiap dengan sejenis perasaan terpana dengan kita yang sekarang. Dengan kenyataan bahwa seorang aku dapat menemukan seseorang seperti kau –itu membuatku tak sanggup berkata-kata. Karena pasti kata-kata dapat berkonspirasi melawan kenyataan seperti itu, memprotes betapa tidak mungkin peristiwa-peristiwa bisa berakhir seperti itu. Meskipun ini bukanlah akhir, karena kita tak pernah tahu apa yang akan mengantarkan kita pada kita esok hari.

Aku tidak memberitahu satu pun temanku mengenai kita. Aku menunggu sampai setelah perbincangan selanjutnya, karena aku ingin memastikan ini nyata. Aku tidak ingin percaya ini telah terjadi hingga terjadi untuk kedua kalinya. Sampai sekarang, aku masih meragukannya.
(david levithan, 2011 hlm.89)

Aku masih meragukannya. Bukannya aku meragukanmu, aku meragukan kita.

Jujur. Bukankah kau merasa bahwa ini seperti dipaksakan? Memaksakan agar hubungan kita seperti hubungan orang lain pada umumnya. Aku tau itu bukan kamu yang sebenarnya. Isn’t it?

Sebenarnya aku menyukai saat ini, tapi entah mengapa aku merasakan paksaan, kita seperti memaksakan apa yang tidak seharusnya. Berkomunikasi hampir setiap hari, membicarakan hal yang tidak terlalu penting, membalas pesan dengan cepat.

Kau pasti tau betul apa definisi memaksa, paksaan; melakukan sesuatu yang tidak ingin kau lakukan. Aku merasa ini tidak seperti seharusnya, aku merasa kau memaksakannya, aku merasa ada yang memintamu dengan paksa untuk mengawasiku.

Kau pasti bingung dengan perasaanku yang berubah-ubah ini, awalnya aku menginginkan kepastian namun selanjutnya aku sendiri yang malah meragukan semuanya tapi tetap membiarkannya terjadi.

Mungkin aku butuh sedikit lebih banyak kepastian. Kau tahu bukan kata itu adalah yang paling banyak wanita bicarakan, “kepastian”. Aku memaksakan diri untuk lebih banyak mengutarakan perasaan, menceritakan lebih banyak lagi hal-hal yang tak penting, bahkan memintamu melakukan sesuatu untukku, padahal sebelumnya aku tak pernah melakukan itu, kepada siapapun.

Sebenarnya aku menyukai saat ini, tapi entah mengapa aku rasa aku lebih menyukai masa dimana aku menikmati rasa rindu padamu. Dimana aku bisa merasa tenang hanya dengan melihat your recent updates. Karena aku tidak menyukai masa dimana hasrat menguasai hati dan pikiranku untuk lebih memaksakanmu memenuhinya; kau membanjiriku dengan bukti-bukti, oleh semua jalur yang menghubungkan aku dengan kau, dan kita dengan cinta.

Atau aku hanya mencintai perasaan cinta kepadamu?

Aku ingin lebih yakin padamu, pada perasaan-perasaanmu. Tapi kurasa aku hanya ingin satu hal; kau mengatakan “aku mencintaimu.” Setiap hari.


Friday, May 20, 2016

IF I STAY?


Judul tulisan ini udah kaya judul film aja. (sebenernya cuma ngambil kata dari tulisan digambar ‘kan?) IF I STAY? bikin mikir juga filmnya, kalo oneday gue pergi ada gak ya, yang bakal nangisin kepergian gue, ada gak ya, yang bakal  inget gue? Jawabannya pasti ada! ke-PD-an? jelas seharusnya adalah, karena gue rasa gue cukup deket dengan beberapa orang, terutama ya keluarga gue. Keluarga mah udah pasti sedih kalo kita pergi ‘kan? Jangan kan meninggal dunia (serem amat yak nulis kata ini, inget dosa, hiks) pergi merantau seminggu doang aja mamah udah nelepon mulu nyuruh pulang :’)

Back to the topic, ada ga yang bakal nangisin kepergian gue? yang inget gue kalo gue pergi? PASTI ADA! TAPI YAAAAAA….. PALING CUMA BEBERAPA HARI PALING LAMA ITUNGAN DUA MINGGU, SETELAH ITU? LUPA! jelaslah, mereka yang ditinggalkan harus menjalin kehidupan mereka, ngana pikir ngana yang ngasih oksigen? gada ngana ga idup? ya engga, bukan, jelas bukan.

Sebenernya gue bukan mau ngomongin gimana kalo gue pergi, dalam artian bener-bener pergi (dari dunia), gue mau ngomongin relationship gue, aih what? oke baiklah, gak tau ini bisa dibilang relationship atau bukan pokonya hubungan gue sama seseorang, please ga usah sensi  denger gue have a relationship, ya intinya deket dengan seseorang pake tanda petik, jadi gini “seseorang”.

Daritadi muter-muter ini tulisan udah kaya kicir angin aja, sebenernya (sebenernya lagi? -_- tapi ga bener-bener) hahaha.. sebenernya bingung harus mulai dari mana, malu juga nyeritainnya, gue ngerasa ga berhak , itu aja sih. (yodahh, ga usah cerita!) tapi pengen ;( (yaudah cepet!) oke, fine! nyimak aja jangan banyak komen ya!!!!

Jadi gini… malu kalo nyeritain kronologi dari awal, gausah prolog ah.. langsung ke intinya aja. coba liat tulisan itu (baca dari angka 1-5, awas kebalik)… seseorang yang pernah, aduh gue bingung bilangnya apa ya? pernah? apa lagi deket sama gue ya? kalo dibilang pernah berarti udah engga dong yaa, tapi kalo dibilang lagi tapi da ga deket kaya dulu. hahaha duh ruet lah.. (yaudah pokonya, baca tulisan digambar itu.)




Udah? Well, what do you think about that? gue ngerasa kalo tulisan itu bilang, kenapa kita ga nyerah aja? menurut gue sih…

Rasanya pikiran mau meledak pas bacanya (eh tapi emang itu tulisan buat lo?) ya anggap aja emang iya buat gue. ulangi. Rasanya pikiran mau meledak pas bacanya.. dua orang di sekoci yang ada tengah samudera? lagi ngepain? pulang aja pulang.

duhhhh ampun… nulisnya sambil kesel, sedih, pengen nagis, jengkel banget pokonya.

that’s the question! (yang mana?) bisakah sekoci itu pulang membawa dua penumpang dengan selamat sentosa bahagia? Allahualam bishowwab.. Siapa sangka si Mark  yang ditinggalin timnya di mars berbulan-bulan dengan persediaan seadanya bisa balik lagi ke bumi terus jadi dosen? (itu cuma film, tapi ambil aja hikmahnya; film the martian)

itu tulisan emang bilang, “tidak ada yang bisa bilang kalau sekoci itu tidak akan berlabuh.” tapi seolah-olah kita dipaksa buat underestimate ke sekoci itu buat dia berlabuh. tapi lagi nih yah.. kalo dipikir-pikir emang sih, siapa coba yang gak meragukan sekoci kecil yang berisi dua orang penumpang yang lagi di tengah-tengah samudera yang luas biangettttt bakal berlabuh di suatu tempat? nungguin helicopter? itu helicopter tau darimana ada dua orang tengah laut? kemungkinannya, 1:1milyar helicopter dateng buat nyelametin itu dua penumpang sekoci. Atau bisa jadi pas nungguin si helicopter, di tengah laut ada badai besar banget, sekocinya ngejatuhin dua penumpang itu ke laut terus kedua penumpang itu dimakan ikan laut sedangkan sekocinya masih terambang dilaut, gada penumpangnya. Atau… pas badai besar, sekocinya nabrak karang besar terus hancur, kedua penumpang itu jatoh, awalnya berusaha berenang abis gitu akhirnya mati gara-gara kecapean atau kehabisan napas atau tiba-tiba ada ikan hiu terus dua orang itu dimakan hiu. Atau… dua orang itu keburu mati disekoci karena kehausan dan kelaparan. bisa jadi! dan berjuta atau yang lainnya…

yaudahlah gausah dibahas lagi berarti ya, relationship itu intinya bakal mati kaya dua orang itu???

tapi bukan itu maksudnya :’(:’( :’( :’( :’( :’( :’( (jadi gimana?) pernah baca buku life of pi? atau nonton filmnya gitu? orang india yang terdampar ditengah laut bareng harimau, lebih menyeramkan daripada cuma terdampar tengah laut beruda ‘kan? mereka bisa balik lagi ke daratan dengan selamat tuh. tapi gue masih bertanya-tanya sih itu film kisah nyata apa bukan, kayanya sih fiktif hahaha.. tapi ya intinya walopun dia terdampar di tengah laut bareng harimau, dengan segala usaha dan kesusahannya selama dilaut dia bisa balik lagi dengan selamat ke daratan. selalu ada harapan!

Kenapa kita tidak berusaha sekeras Pi? mungkin kalau kita berusaha sekeras Pi kita bisa berlabuh, bahagia, selamat sentosa sejahtera. mereun. (Kita siapa maksudnya?) Maaf, maksudnya mereka, dua orang penumpang sekoci.

Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa mereka ga berusaha buat nyelametin diri?

Kenapa dua orang itu harus menunggu helikopter yang belum tentu dateng buat nyelametin mereka? kenapa mereka tidak berusaha berdua, bersama buat berlabuh, mengayuh sekoci sampai mereka melihat sebuah pulau untuk ditinggali, lalu hidup di pulau itu? Atau jika memang tidak ada harapan buat hidup sampai menemukan pulau atau diselamatkan oleh helicopter, apa mereka hanya hidup disekoci sambil membelakangi badan satu sama lainnya? tidak saling berbicara?  apa mereka sibuk dengan masing-masing dari mereka untuk menyelamatkan diri mereka sendiri saja? tanpa berunding? apa mungkin salah satu dari mereka adalah pejabat tinggi, sehingga yang satunya bahkan tidak berani untuk memandang wajah “teman” di sekocinya itu?

mereka ga mau saling bicara, apa ga pada bisa bicara? ya kalau emang mereka tidak seakrab itu buat saling bicara, setidaknya mereka harus berdiskusi buat keselamatan mereka berdua, setelah memutuskan untuk keduanya sama-sama mengayuh sekoci, sepanjang jalan mereka bisa saling berdiam kok, ya asal utamakan keselamatan dulu. apa iya mau diem aja nungguin nasib apa yang bakal mereka alami? kalo emang iya begitu, mereka adalah dua orang yang paling bodoh dimuka bumi ini. God please, just let them die!!






*For ya, are we can’t do something? for us? oke kalo sudah tidak ingin lagi ada kata “us” just for you and for me. berilah kepastian untuk semuanya, jangan memulai namun berhenti ditengah jalan, mencari jalan lain, sedangkan yang kamu ajak untuk sampai ke garis finish itu kamu tinggalkan lalu dia bahkan tidak pernah menemui garis finishnya.

Aku? bukannya aku tidak bisa berlari sendiri, hanya aku masih berharap..






*nyambil denger lagu Adele-All i ask*


Wednesday, March 2, 2016

Kamu boleh melakukan apapun, nanti aku balas.



Judul tulisan ini terdengar begitu kejam ya, kesannya orang yang nulis tuh pendendam banget gitu ya? Padahal nggak juga sih! Kenapa engga? Ya kalo orang itu ngebalesnya balesan kebaikan ke orang lain apa itu disebut kejam? Jelas tidak ‘kan? :D

Ya intinya sih, mendapat balasan sesuai dengan apa yang diberikan. Kamu jahat sama aku nanti aku jahatin juga. Dan kalo kamu baik sama aku nanti aku baikin balik. Kayak simbiosis mutualisme, kerja sama, saling tolong menolong, balas budi; saling menguntungkan satu dengan yang lainnya. Dan dengan pemikiran ini semua urusan bakal kerasa mudah karena setiap orang saling membantu.

Tapi beda dengan pemikiran disatu sisi, seolah-olah lagi kaya lagi war, perang, adu-aduan, kompetensi, saling menjatuhkan; saling merugikan satu dengan yang lainnya, berusaha buat bikin lawan tumbang, kalah, kehilangan dan menghabiskan.

Kamu boleh melakukan apapun, nanti aku balas. Kalimat itu adalah salah satu kalimat yang selalu aku pegang dari dulu; hasil pembelajaran hidup dari apa yang ibuku berikan. Dulu itu sebelum kelas empat SD semuanya terasa mudah, enak dan menyenangkan. Setelah itu… ya enak juga sih… tapi, ibu mulai mengajarkan apa yang harus dan tidak aku lakukan seumur hidupku. Salah satunya adalah “Kamu bakal dapet balesan sesuai dengan apa yang kamu berikan atau kamu lakukan.”

“Bu, teteh mau makan!” Siang itu pintaku setelah pulang dari sekolah.

“Iya. Tapi teteh ganti baju dulu, beresin tas dan sepatunya, abis gitu sapu semua ruangan rumah!” Jawab ibuku.

“Bu! Teteh capek baru pulang sekolah, teteh mau makan sekarang!”

“Nggak! Lakuin dulu apa yang ibu suruh tadi. Kalo nggak ya belum boleh makan!” Perintah ibuku dengan suara yang makin meninggi.

Karena takut mendengar suara ibu yang begitu meninggi, dengan perasaan kesal, marah dan terpaksa akhirnya aku menurutin apa yang ibu perintahkan. Ya mau bagaimana lagi, nanti gak dapet makan. Huft..

Aku ganti pakaian sekolahku dengan pakaian rumah, menyimpan sepatu dan tas pada tempatnya lalu membersihkan seluruh ruangan kamar dan rumah dan menyapunya. Setengah jam sudah kuhabiskan waktuku untuk melakukan itu semua. Akhirnya aku duduk di kursi depan memagang kipas bergambar mickey mouse sambil mengipas-ngipaskannya kebagian leherku.

Tidak berapa lama ibu datang membawa minum dan makanan di piring.

“Ini teh.. Makan.” Kata ibu sambil memberikannya kepadaku

Dengan muka sedikit agak sebal akhirnya akupun mengambilnya, aku tidak bisa menyembunyikan kalau perutku lapar sekali. Padahal sebenarnya aku ingin sekali ngambek sama ibu.

“Makasih ya teh, udah mau ngelakuin apa yang ibu suruh.” Katanya memulai pembicaraan sambil tersenyum. Ah… aku sudah tak bisa marah lagi kalau lihat ibu senyum!

“Hmm..” Aku bergumam sambil memakan makan siangku.

“Teteh marah ya sama ibu?... (aku hanya melanjutkan makan tanpa menjawab pertanyaan ibu) Yaudah gapapa kalau teteh marah sekarang, nanti sore juga mau deketin ibu terus meluk ibu sambil cerita tentang kejadian di sekolah ‘kan? (aku hanya mencibir mendengarnya) hahaha… Oya, mulai besok biasakan seperti hari ini ya, sayang! Membereskan rumah, makan makanan siang dan setelah itu… mencuci piring!”

Saking kagetnya mendengar apa yang ibu katakan, aku sampai-sampai akan mengeluarkan bola mataku. (sumpah yang ini hiperbola, hahaha) tapi aku beneran kaget!!!

“Ibu apaan sih! emangnya aku pembantu harus beres-beres rumah terus nyuci piring segala lagi!” Jawabku sambil marah-marah

“Lho kok kamu bilang gitu? Kamu tau ‘kan ibu setiap pagi bersih-bersih rumah, mencuci baju, menyiapkan sarapan buat bapak dan kamu lalu mencuci piring? Terus menurut kamu ibu pembantu gitu?”

“Ya, nggak bu.. (sambil menggelengkan kepala) tapi, ‘kan itu udah tugasnya ibu begitu, tugas aku ya cuma sekolah aja.” Jawabku

“Ya ampun enak banget ya jadi kamu sayang… tinggal sekolah makan dan main gitu? Kalo bertukar posisi bagaimana? Mau nggak?”

“Ya mana bisa bu!”

“Kenapa nggak? Ibu bisa saja bertukar posisi dengan bapak. Ibu bekerja mencari nafkah dan bapa yang membersihkan rumah, ‘kan? (aku hanya terdiam) Maafin ibu teh, bukan maksud ibu buat jadiin kamu pembantu di rumah ini, menyuruh kamu melakukan pekerjaan lalu baru memberi kamu makan. Tapi bukankah untuk mendapatkan sesuatu kita harus bisa memberikan sesuatu dulu, atau sebaliknya setelah memberika sesuatu biasanya kita akan dapat balasan atas apa yang telah kita lakukan?”

“Kenapa gitu, bu? ‘kan kata ibu ada yang namanya cinta, dengan cinta itu kita bisa memberikan apapun buat orang yang kita cintai dan atau sebaliknya kita bisa mendapatkan apapun karena kita dicintai, ‘kan?”

“Betul sekali.. Wah anak ibu pinter banget yaa (ibu semakin mendekat padaku dan menyandarkan kepalaku pada pundaknya). Sekarang ibu tanya, setelah kita memberikan apapun kepada yang kita cintai bukankah kita ingin orang yang kita cintai itu mencintai kita dan selalu ada disamping kita bukan? (aku mengagguk) dan kita bisa mendapatkan apapun karena kita dicintai itu…. Emh… banyak alasannya sih tapi salah satunya karena kita telah memberikan sesuatu kepada yang mencintai kita sehingga kita bisa ia cintai.”

“Tapi kan ada juga yang dicintai karena punya wajah yang cantik atau ganteng terus ada juga yang dicintai karena orangnya lucu atau orangnya baik.”

“Itu juga termasuk apa yang dia berikan sebelum dicintai sayang… bisa jadi orang yang cantik itu sebelumnya tampil didepan yang mencintainya dia pergi ke salon dan membeli baju baru ke pasar, lalu akhirnya dia bisa dicintai ‘kan? (aku mengangangkan kedua pundakku) bukannya itu termasuk apa yang dia lakukan sebelum mendapatkan sesuatu? Di zaman yang sudah serba berbayar dan mudah ini, jarang sekali mendapatkan sesuatu karena dicintai dengan cuma-cuma. Kamu harus melakukan sesuatu terlebih-dahulu sebelum mendapatkan sesuatu. Itulah aturannya sayang. Kita boleh saja memberikan sesuatu kepada orang lain atau melakukan sesuatu untuk mendapatkan yang kita mau, asalakan tujuan kita baik dan cara yang dipakainya juga baik. Makanya besok kalo ibu suruh lagi kamu harus ikhlas ya, biar dapet makan siang, dapet cinta dari ibu sama dapet pahala dari Allah.” Ibu menutup pidatonya dengan senyum yang lebar.

“Iya bu… tapi bu, kalo aku membalas orang yang jahat sama aku gimana?”

“Ehm.. Boleh saja! Allah juga bilang kita boleh membalas hal yang sama atas perlakuan buruk orang lain (An-Nahl:126 ) tapi bakal lebih baik kalo kamu bersabar dan mendoakan yang terbaik buat orang yang udah jahatin kamu itu. kamu harus inget karena kalo kamu jahatin orang lain, suatu saat nanti kamu akan mendapatkan hal yang sama meski bukan orang tersebut yang membalasnya. Kalo kamu kesel sama seseorang, lebih baik kamu diemin aja dan gak usah deket-deket lagi sama dia. Bahasa anak sekarangnya mah, cukup tau aja! Hahaha…” Jawab ibu sambil tertawa menutupi mulutnya. Aku ikut tertawa, mengangguk, dan mengerti.

Baiklah aku mengerti sekarang, seperti itulah memang hidup, saling memberi. Entah itu memberi kebaikan atau sebaliknya. I-N-T-I-N-Y-A Kita mah baik dulu aja sama orang, urusan orang itu baik lagi atau nggak sama kita itu urusan dia sama Allah. Karena kita akan mendapatkan balasan atas apa yang kita lakukan dan orang lainpun akan mendapatkan balasan atas apa yang dia lakukan meskipun bukan dari orang yang sama. Jadi baik dan ikhlas, that’s teh key. J


Sunday, August 30, 2015

Ternyata Cuma Seribu



*Cerita di waktu hari yang lalu*
Pagi tadi tuh rasanya sedikit ngeselin banget, kenapa? Sepele sih, tapi lumayan bikin kesel dan agak ‘malu’ juga. Oke akhirnya pas pulang sekolah gue langsung cerita sama mamah tentang kejadian tadi pagi.
Sambil duduk dan minum segelas teh gue memulai pembicaraan. “Mah, tadi pagi teteh¹ kesel banget sama abang angkot!” Gue memulai sambil mandangin gelas teh.
“Kesel kenapa teh?” Tanya mamah sambil nerusin jahit baju.
“Gini lho mah, (masang muka agak manja) ‘kan biasanya teteh kalau naik angkot ongkosnya tiga ribu ya sampe sekolah, tadi teteh bayarnya pake uang lima ribuan. Eh pas dikembaliin lagi sama abang angkotnya cuma seribu masa mah, jadinya hari ini teteh gak bisa nabung.”
“Oh, gitu doang teh. Gak apa-apa atuh kan cuma seribu.”
“Iiiih mamah, kan seribu juga lumayan. Biasanya kan teteh nabung seribu sehari, kalo dikumpul-kumpul kan bisa jadi banyak! Terus kan teteh protes sama abang angkotnya. Bang kurang seribu lagi! Terus abangnya malah bilang gak ada kembaliannya, padahal teteh liat ada seribuan sama dua ribuan ditempat uangnya yang deket stirnya itu.
“Terus?”
“ya teteh bilang lagi, itu ada bang kembaliannya sambil nunjukin ke uangnya itu.”
“Terus abangnya ngasih gak?”
“Engga mah! Dia malah marah-marah sama teteh. Yaampun neng! Cuma seribu doang, rebut banget sih. Gitu katanya mah! Ya teteh makin kesel, udah aja teteh tinggalin abangnya, malu juga diliatin penumpang yang didalem angkotnya.” Gue minum lagi tehnya sambil masang muka cemberut.
(Mamah mendekatiku sambil meletakan kepalaku dipundaknya)
“Ya udah sayang, mending ditinggalin aja ya kalau ada kejadian kaya abang angkot tadi lagi, lagian kan cuma seribu.”
“Tapi kan mah, biasanya sehari teteh nabung seribu. Dan hari ini teteh gak bisa nabung gara-gara abang angkot ngeselin itu!”
“Eh gak boleh bilang gitu sama abang angkotnya! Gitu-gitu juga dia orang dewasa, harus dihormati. Teh… Kita gak pernah tahu apa yang dia alami sampai-sampai dia gitu sama kamu, mungkin aja dia lagi butuh uang, jadi dia secara pribadi naikin tarif angkotnya.”
“Ko gitu mah? Kan abang angkot yang lain engga, tadi aja pas pulangnya teteh cuma bayar tiga ribu terus gak ditagih lagi sama abang angkotnya!”
“Kan kata mamah dia naikin tarif angkot pribadinya teh.”
“Tapi kenapa?”
“Ya mungkin dia lagi butuh uang banyak, mungkin dia butuh uang buat kebutuhan mendesaknya, entah itu kebutuhan sekolah anaknya, berobat keluarnya atau mungkin rumah kontrakannya atau yang lainnya. Kita gak pernah tahu seseorang itu punya masalah atau engga kalau kita gak tahu ceritanya atau kalo mereka gak menceritakan ke kita. Tapi kita harus ngerti, memaklumi kalo ada seseorang yang berlaku tidak seperti biasanya. Barangkali dia lagi punya masalah yang berat.”
(Gue cuma biasa diem aja.)
“Yaudah niatnya diganti aja, teh.”
“Niat apa mah?”
“Niat naik angkotnya.”
(gue memandang ke arah mamah dengan muka bertanya-tanya.)
“Gini sayang, abang itu jadi supir angkot karena itu pekerjaannya bukan? (mamah memandang gue, dan gue cuma ngangguk). Dari hasil abang itu jadi supir angkot, dia nafkahin keluarganya, ‘kan? (gue ngangguk lagi). Nah, makanya itu kalau naik angkutan umum, mau itu angkot, becak, bus atau yang lainnya, kita niatin juga buat bantuin abangnya ngasih nafkah buat keluarga. Selain kita jadi tenang, insya Allah kalau niatnya baik Allah bakal bales niat baik kita itu, teh.”
“Oh iya yah, teteh baru kepikiran sekarang, hehehe..”
“Iya teh, makanya kalo abang angkotnya nge-tem dulu buat menuhi angkutannya kamu juga jangan marah. Soalnya kalo yang naik angkotnya sedikit, kamu harus mikirin, nanti keluarga mau makan apa? Iya ‘kan?”
“Hehe iya mah, sekarang teteh ngerti. Teteh gak bakal marah lagi deh kalo abang angkotnya naikin tarif, nanti Allah ganti uangnya sama yang lebih banyak lagi ‘kan? (mamah ngangguk) Terus teteh juga gak bakal marah kalo abangnya nge-tem lama, biar abangnya bisa dapet uang banyak terus bisa menuhin kebutuhan keluarganya, ‘kan? (mamah ngangguk lagi) Terus setiap naik angkot, teteh mau niatin buat bantuin abangnya  nyari nafkah buat keluarganya biar hati teteh tenang.”
(mamah senyum dan meluk gue)
Dan ternyata disetiap kejadian itu memang selalu ada hikmahnya. Setelah kejadian ini gue mulai hati-hati dengan respon seseorang, kita mah tahunya orang lain senang mulu dari tampilannya, padahal barangkali mereka punya masalah yang lebih berat dari kita.

note: teteh adalah panggilan kakak perumpuan (Sunda).

Sunday, August 9, 2015

The Cutest Picture




 Assalamu’alaikum.Wr.Wb,,

Sekarang gue mau doodling tentang picture di samping ini nih. awalnya sih gue lagi males-malesnya ngetik, tapi ya karena baru aja gue kena musibah, akhirnya dengan kebingungan mau ngapain lagi malem-malem begini belum tidur, yaaa.. nulislah daripada bengong hihihi..

Ohya, kalik aja ada yang khawatir sama gue, musibah apa yang menimpa gue? oke, musibah yang baru aja gue alami adalah nge-hang-nya laptop gue pas gue dikit lagi mau nyelesein praktek video gue. buat para mahasiswa/i, belajar sabar dari laptop nge-hang itu sudah jadi kebiasaan bukan? apalagi pas ngerjain tugas deadline tengah malem yang besok paginya dikumpul. mending ngelus dada yang banyak aja deh~ wkwkwk

well, prolognya kebanyakan. langsung aja ke cerita, awalnya gue dapet picture anak kecil kiyut itu, bermula dari temen gue yang tetiba aja ngasih gambar itu via BBM ke gue “Ini mirip nonong” katanya. dan gue sangat amat mengakui kalo gambar kiyut itu mirip gue banget hihihi makanya gue suka banget sama gambar ituuuu..

kalo ngeliat gambar itu tuh berasa dia adalah gue di masa lampau atau mungkin anak perempuan gue di masa yang akan datang, hahaha.. mirip? mirip darimananya? oke gue jelasin ya. First, dari matanya yang merem itu lho. kata temen-temen gue, gue kalo senyum sambil merem gitu tuh, padahal sebenernya gue liat ko, gue masih bisa liat  orang-orang yang ada disekitar gue dan apapun itu yang ada di sekitar gue meskipun senyum gue kata mereka merem. sering banget mereka ngejekin gue, kalo gue senyum mau ditinggal katanya, biar nanti pas gue buka mata gue, gue sendirian gitu.. zzzzzz -___-

Oke next, tidak boleh terlarut dalam tulisan di atas, apalagi sampe dibayangin. plis, jangan! yang kedua dari pipi dede yang ada picture itu, you see? that’s ch*bby (read:temb*m) masih ga ngerti? oke oke fine! TEMBEM you know? keadaan dimana pipi seseorang yang seolah-olah ada balon kecil didalamnya sehingga nampak menggelembung dari luar, haha apalah -___- ya gitu deh~

Sebenernya gue gak suka banget dengan pipi gue yang tembem ini, tapi ya mau dibagaimanakan lagi? Syukuri saja, mungkin ini adalah salah satu kelebihan gue, gue yang lebih banyak kurangnya. That’s why my Allah give me that chubby cheek, heuheu.. gue kasih tau ya.. buat kalian yang punya seseorang tembem dikehidupan kalian, plis jangan ngejek mereka ya, karena setiap kali dia ngaca ataupun selfie dan wefie sudah cukup pipi tembemnya itu membikin dia sebel karena angel yang susah didapat, jadi ga usah kalian tambah-tambahin lagi dengan ejekan yang menyesakkan , oke? karena seberapapun besarnya mereka (si tembem) berusaha dan mencoba untuk diet, olah raga pipi, yoga, dll pipi tembem akanlah tetap menjadi pipi tembem. hikshiks..

lanjuttt, Third.. liat coklat yang dimakan anak itu? pastilah liat! Hahaha.. si dede imut dengan lahap dan belepotannya memakan coklat itu, persis banget sama gue yang doyan banget makan coklat atau apapun itu yang rasanya manis-manis, tapi bedanya gue kalo makan gak belepotan. That’s why gue punya gula darah yang cukup tinggi, dokter sih nyaranin buat ngurangi asupan gula gue, tapi atuh da kumaha, gue kurang suka makanan yang rasanya asin ataupun pedes, jadi yaaa cemilan dikost-an gak jauh dari coklat dan biskuit hihihi.. tuh kan, kurang mirip apalagi coba sama dede kiyut itu? :D

eh ada satu lagi ternyata yang bikin gue suka banget sama gambar itu, itu si dedenya pake gamis, warna biru lagi! That’s my favorite colour J I love blue so much and more, engga tau kenapa pandangan gue buat warna biru selalu baik, mau itu biru muda, biru tua, biru telor asin, biru laut, biru langit, dan biru-biru lainnya, gue selalu merasa tenang dan nyaman kalo liat warna biru :D dan kebetulan juga recently gue lagi suka-sukanya pake gamis, almost everyday gue pake gamis terusss.. jadi, gue mirip banget kan sama dede ituu?

Nah, segitulah kira-kira kemiripan gue sama picture cute, kiyut, imut dan lucu diatas. kalo kalian yang kenal gue merasa gue ga seperti apa yang gue sebutin, yaudahlah ya never mind, ini cuma doodle di tengah malam yang senduuuu~ hhihihi

the most tengkyu so much much much buat temen gue yang ngiirim picture ini J




Wednesday, July 29, 2015

I'd Never Planned

Cinta itu susah  ditebak  jalannya. Dia sering menghkhianati apa yang ada di depan mata dan hanya peduli dengan apa yang dia rasa.
Pagi ini, lagi, Edgar mengirim bingkisan untuk yang ke.. kalo gak salah hitung, ini sudah ke tiga belas kalinya. Aku membuka bungkisan itu, kali ini coklat, pulpen yang lucu dan sebuah kertas yang bertuliskan “Semangat untuk hari ini Dinda J have a great day!.. salam Edgar”
Yaampun… 2015 masih aja gitu ya pake surat-suratan segala, sekarang kan zaman canggih. Tinggal kirim sms aja kali -_-  Awalnya aku senang dan sangat berterimakasih mendapatkan bingkisan dipagi hari, berasa ada yang memperhatikan gitu,tapi ya lama-lama risih juga!
Edgar teman kantorku, satu divisi, sering bertemu satu sama lain dikantor. Edgar selalu berangkat lebih awal hanya untuk lewat ke depan rumahku dan meninggalkan bingkisannya. Aku sudah memperhatikan sejak lama. Untuk wanita pada umumnya mungkin akan tergugah hatinya karena perhatian yang bisa dibilang romantic ini, tapi aku tidak! Aku merasa mual. Aku pernah mengatakan padanya untuk menghentikan ini semua. Tapi Edgar tetap melakukannya. Bikin makin mual!
Siang itu sebelum pergi ke kantin untuk mencari makan siang, aku menemui Edgar.
Can we talk? Just for a moment?” pintaku.
“Oh ya. Boleh. Apa?” jawabnya sambil merapikan mejanya dan memberikan sedikit senyuman.
“Edgar, aku sangat berterimakasih atas bingkisan yang selalu kamu kasih akhir-akhir ini dan aku senang menerimanya. Tapi Please, hentikan! Jangan dijadikan kebiasaan, kalo sering begini aku jadi gak enak juga nerimanya.” Jelasku.
Why? Aku seneng dan ikhlas kok melakukannya.”
“Tapi aku..”
“Kenapa?”
“Gapapa, lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan” kataku sambil memberi senyum yang dipaksakan dan berlalu.
Percakapan kami berakhir disitu. Untuk orang pada umumnya, seharusnya ia mengerti apa maksudku. Come on! Kita sudah dewasa, sudah bekerja! Bukan lagi anak SMA yang baru kasmaran. Harusnya sih dia ngerti kalo aku ini gak mau nerima bingkisannya karena aku gak suka sama dia. Bukannya ke-pe-de-an, tapi ya kalo buka ada rasa suka atau semacamnya, ngapain coba seorang laki-laki setiap pagi selalu memberi bingkisan dan kata-kata penyemangat buat seorang wanita kalau bukan karena rasa itu. Yaa.. kecuali dia melakukan hal yang sama buat semua wanita yang dia kenal. Tapi kan gak mungkin dia sempet nyiapin bingkisan buat semua wanita yang dia kenal. Or whatever!
Huft.. ya sudah mau gimana lagi akhirnya aku membiarkan Edgar untuk terus melakukan “kebiasaanya” itu dan ya… menerima bingkisannya. Kan mubadzir kalo dibuang. Hahaha..
Aku tidak pernah tahu betul kenapa aku sangat tidak menyukai hal yang dilakukan Edgar, padahal dia sudah baik dan mau repot-repot melakukan hal itu. Sebenarnya aku ingin menbuka hati untuk apa yang Edgar lakukan, tapi aku tidak bisa. Aku merasa sudah mengkhianati seseorang jika aku menerima apa yang dia lakukan, padahal aku tidak memiliki seseorang yang dibilang special.
Oke, aku memang tidak memiliki seseorang yang special. tapi hatiku, punya! I can’t deny, I have someone that I loved. Feri, namanya Feri, Feri Febriana. Dia temanku semasa SMA. Kita, maksudku aku dan Feri tidak pernah saling dekat satu sama lain. Hanya beberapa waktu kita sering berpapasan, dikantin sekolah ataupun lorong kelas, karena sekalipun kita tidak pernah satu kelas. Aku tidak terlalu ingat kapan pertama kali aku mulai jatuh cinta dan kenapa aku jatuh cinta kepadanya, tapi yang jelas aku masih jatuh cinta padanya, sampai sekarang.
Aku tidak pernah berani mendekatinya apalagi mengatakan cinta kepadanya karena ia punya pacar yang sangat cantik. Tapi bukan itu maksudku masalahnya, karena aku rasa akupun tidak kalah cantik dengan Lily, pacarnya Feri itu. Aku hanya tidak ingin mengganggu dan mengusik kebahagiaan Feri, lagipula belum tentu juga Feri mau menerima pernyataan cintaku apalagi menerima cintaku jika aku mengatakannya. Akhirnya aku hanya menyimpan perasaan ini selama enam tahun, yaa enam tahun kalau dihitung sampai sekarang. Amazing!
There’s no one knows about my heart and what I’m feeling. Karena aku kira lama-lama aku bisa menghapus perasaanku untuk Feri, tapi aku tidak bisa! Bahkan setelah aku mencoba untuk menerima cinta dari yang lain dan mencintai yang lain, aku tetap tidak bisa menghapus perasaanku untuk Feri. Oh my God! bisa dibayangkan betapa tersiksanya aku dengan perasaan ini? Dan lebih mengerikannya lagi, Feri dan Lily tidak pernah putus sampai sekarang. Aku merasa sangat lelah dengan perasaan ini. Huft!!
Sejujurnya aku ingin mencoba mencintai dan membuka hati untuk Edgar, tapi aku takut aku hanya mempermainkan perasaanya karena perasaanku untuk Feri ini. Akhirnya aku hanya menutup hati ini, sampai entah siapa yang sanggup untuk membukanya. Aku sih pinginnya Feri, eh tapi tidak juga sih. Biarkan Feri bahagia dengan Lily dan aku menemukan seorang yang mencintaiku dan aku cintai. Sepertinya itu lebih membahagiakan.
I just waiting for that moment. Saat dimana aku bisa menemukan seorang yang bisa aku cinta seperti aku mencintai Feri, bahkan mungkin lebih. Aku tidak pernah ingin memaksakan hati ini untuk segera mencintai dan melupakan seseorang, aku hanya membiarkannya, mengikuti apa yang ia inginkan. Karena cinta itu susah  ditebak  jalannya. Dia sering menghkhianati apa yang ada di depan mata dan hanya peduli dengan apa yang dia rasa.
You know! I never planned on falling in love with you. ~~~




*Cuma iseng*